Cita-cita
“dek dek, nanti kalo dah GD pengen jadi apa?”
Sebuah pertanyaan yang terakhir kali ditujukan padaku saat masih duduk di bangku MI (SD), kangen juga sih ditanyain kayak gitu, masa-masa dimana aku masih imut, lucu, dan tentu saja saat itu belum ganteng-ganteng amat *plaaakk..* .
Saat itu, hidup benar-benar tanpa beban dosa, semua dosa-dosa masih ditanggung orang tua, kan belum baligh, haha.
Kangen karena pertanyaan itu bukan hanya sebuah pertanyaan yang perlu dijawab, tapi juga membuat orang yang ditanya jadi berpikir jauh kedepan. Dan seingatku pertanyaan seperti itu juga bisa menimbulkan semangat meluap-luap loh, gak kayak sekarang ini nih, na na na, everyday is a lazy day *ups*
Lalu ada jawaban unik dari seorang teman wanita yang baru saja menyelesaikan S1 di Sekolah Farmasi ITB angkatan ‘02. Teman (tepatnya kakak perempuan dari seorang teman) saya ini memberikan jawaban yang cukup membuat aku benar-benar terkesan, dia bilang bahwa cita-cita dia adalah menjadi seorang ibu. Ah, pantesan setiap maen ke kost (dalam rangka menjenguk adeknya) buku yang dibawa gak jauh jauh dari buku seputar how-to mendidik anak dan semacamnya. Sayang sekali Alhamdulillah sekarang dia udah kawin.
(backsound bernada protes): So What, bro?
Haha, aku tidak sedang ngomel masalah pentingnya peran ibu kok, yang aku pengen tau adalah:
Adakah dari laki-laki yang cukup sadar bercita-cita menjadi seorang ayah?
Adakah dari kami yang menjadikan “status ayah” benar-benar sebagai cita-cita, bukan sekedar sebagai sandaran yang akhirnya hadir dengan kelahiran buah hati?
nb: 2 kalimat terakhir nyomot terinspirasi dari KK Ilham

[...] apakah kau bercita-cita menjadi ayah yang baik? Jump to Comments Ini tulisan dari teman Buncil yang sekarang masih ngendon di TIF ITB, belum lulus-lulus juga… [...]
Pemuda, apakah kau bercita-cita menjadi ayah yang baik? « garden of children said this on December 28, 2009 at 1:54 am